Menu MBG Desa Matua Tidak Memenuhi Standar Porsi Dan Kuat Dugaan Banyak Korupsi
Menu MBG Desa Matua Tidak Memenuhi Standar Porsi Dan Kuat Dugaan Banyak Korupsi
Dompu, kabardompu@gmail.con Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai intervensi gizi nasional kini menghadapi tantangan yang sangat serius.
Tantangan itu yang dilakukan oleh ulah oknum Para pelaku Satuan pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ingin meraup keuntungan besar sehingga tidak menjaga mutu menu makanan yang disalurkan.
Salah satu temuan yang di salurkan oleh MBG Desa Matua dengan menu makan yang tidak sesuai dengan standar gizi yang di sepakati oleh pemerintah dan menu makanan yang tidak sesuai dengan nominal yang di anggarkan oleh pemerintah 8 Ribu sampai 10 RB perporsi sehingga membuat orang tua siswa menduga pengadaan menu mbg desa Matua sangat buruk dan diduga banyak Korupsi." Saya minta pada pihak terkait agar segera menutup mbg tersebut" ujarnya orang tua siswa yang tidak ingin namanya disebut
Menurut pengakuan orang tua murid bahwa makanan yang di salurkan oleh MBG Desa Matua Kecamatan woja Kabupaten Dompu ke salah satu siswa SD sangatlah minim dan tidak sesuai dengan standar gizi dan harga yang di sepakati. "Masa satu roti, tiga biji kurma dan sambal tempe kacang seharga 10 ribu itu tidak masuk akal, dengan kondisi menu makanan seperti itu kalau di harga pasar 5rb rupiah jadi kuat dugaan kita merekan meraup keuntungan banyak dan tidak menjaga mutu" . Ujarnya.
Selain itu juga, pihaknya meminta SPPG memperjelas informasi menu, nilai gizi, dan harga komponen makanan agar penyajian lebih transparan serta mudah dievaluasi.
Ia juga menegaskan, bahan pangan yang digunakan dalam program MBG tetap diarahkan berbasis sumber daya lokal, namun kualitas menjadi prioritas utama. Jika ditemukan bahan pangan yang tidak layak, pihak pelaksana diminta menunda distribusi dibandingkan memaksakan penyaluran makanan dengan mutu kurang baik.
Ia meminta, BGN menghentikan operasional satuan pelayanan yang dinilai tidak memenuhi standar, sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan pangan dan kepercayaan masyarakat terhadap program.
Program yang digagas pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) sejatinya dirancang untuk memperkuat asupan gizi peserta didik melalui kombinasi karbohidrat, protein, sayur, buah, serta susu atau sumber kalsium lain. Namun, realisasi di lapangan disebut belum memenuhi komposisi tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu yang diterima siswa pada Senin (02/03/2026) berupa kue bolu kukus, kurma, dan sambal kacang dan tempe.
Komposisi tersebut memunculkan pertanyaan terkait keseimbangan gizi, terutama ketiadaan sayur dan sumber karbohidrat utama yang menjadi bagian penting dalam pedoman gizi seimbang.
Sampai berita ini diturunkan pemilik SPPG Desa Matua belum bisa di konfirmasi.(Din)

Tidak ada komentar